Aku, Kulkas, dan Susu SGM

Aku, Kulkas, dan Susu SGM
Pemandangan di atas Kulkas


Apa yang kamu pikir jika melihat pemandangan seperti itu di sebuah rumah? Pemandangan seperti itu ada di rumahku, dengan kulkas dua pintu dan susu SGM di atasnya. Yang terbesit di pikiran salah satu tamuku adalah "Anakmu nggak ASI lagi?".

Itu adalah judgement pertanyaan pertama.

Padahal ada sebuah cooler box di samping kulkas, yang artinya aku masih bawa ASI dari kantor.
Padahal susu SGM itu judulnya SGM Xplor 3+, yang artinya anakku belum boleh minum karena masih 15 bulan.
Padahal jika pintu kulkas itu dibuka masih ada ASI untuk BEBERAPA HARI lagi, yang artinya aku masih memberi ASI.

Nah, ketika aku bilang BEBERAPA HARI, berapa harikah yang kamu pikirkan? Pasti ada yang berpikir sisa ASInya tinggal sedikit. "Beberapa hari itu palingan 3 hari"
Iya kan? Tapi, siapa sih yang tahu? You don't know what's hidden there. Mungkin saja di balik pintu kulkas itu ada botol-botol ASI yang padat sesak, sebut saja cukup untuk 50 hari. Atau mungkin hanya berisi 25 botol saja, yang hanya cukup untuk 6 hari. Atau mungkin hanya tersisa 3 botol saja, which means hanya untuk besok, 1 hari saja.  Ah, biarkan berapa botol ASI di balik pintu itu tetap jadi misteri, yang jelas cukup lah untuk beberapa hari. Entah 50 hari, 25, atau hanya untuk esok saja.

Dari susu SGM di atas kulkas dan kata Beberapa hari saja orang bisa men-judge seorang ibu nggak lagi ngasih ASI. Dan aku juga seenaknya men-judge kamu bahwa kamu berpikir begitu. Hahaha..

Jadi kenyataannya adalah:
Aku ibu menyusui.
Suka makan atau minuman yang manis.
Tapi nggak suka susu ibu menyusui.
Jadi AKU minumnya susu SGM.
Jadi susu SGM itu aku yang minum. Iya, aku. Ibu-ibu berusia 24 tahun, bukan anakku yang masih bayi. Entah karena pas aku bayi dikasihnya susu SGM, jadinya terbiasa dengan rasanya. Yang jelas aku paling suka nge-gado-in susu SGM kalau lagi pengen makanan manis. Atau bikin oreo milkshake kalau lagi pengen minuman seger, susunya ya dari susu SGM itu. Hahaha, jangan nyengir ya dengernya.. Abis SGM ini rasanya enak, tapi jangan dulu dikenalin sama bayi di bawah 2 tahun deh. Nanti kalah saing sama rasa ASI. Kalau soal kandungan mah, tentunya ASI menang telak lah.

Kembali pada foto di atas. Orang itu mulai men-judge aku udah nggak ngasih ASI karena ketidaktahuannya. Si tamu itu nggak tahu apa yang ada di balik pintu kulkas. Dia juga nggak tahu kalau aku suka nge-gado-in susu SGM. Dia hanya tahu kalau susu SGM itu cuma untuk bayi, padahal kalau aku bikin klappertaart ya pakai susu SGM. Dia hanya menyimpulkan apa yang dilihatnya.

So, berhenti menyimpulkan sendiri, berhenti men-judge seorang ibu, apalagi cewek itu ya segala hal dimasukin ke hati.

Berhenti men-judge dengan 4 cara ini:
  • Bertanya!! Jangan sok tahu!!

Kalau lagi dicuekin sama suami, jangan langsung men-judge bahwa dia lagi ngambek. Mungkin karena tadi malam Barca (tim kesayangan suami) kalah. Daripada langsung nebak "Kamu cuek banget sih sama aku? Kalau ngambek jangan gini caranya!", mendingan nanya baik-baik "Kamu ada masalah apa, Yank?" sambil ngasih hot chocolate.

Ternyata pengetahuan kita itu emang minim banget tentang hati orang lain.

  • Susun kalimat, 

Coba si tamu tadi nanya dengan kalimat yang lebih bagus, mungkin postingan ini nggak akan tercipta. Haha.. Sepertinya kalimat:
"Sekarang pumping-nya sehari dapat berapa?"
terdengar lebih baik daripada
"Anakmu nggak ASI lagi?"

  • Perhatikan Situasi dan Kondisi

Jangan langsung men-judge seorang ibu nggak telaten hanya karena rumahnya berantakan. Lihat anaknya usia berapa tahun.
Jangan langsung men-judge sebuah brand itu loyal banget bisa ngasih sample gratis.
Lihat syarat dan keterntuan berlaku yang bintangnya kecil banget.
Jangan langsung men-judge seseorang yang hobby traveling itu keren dan banyak duit.
Lihat gimana pergaulan dia sama dunia nyata dan lingkungannya.


  • Diam Adalah Emas daripada Harus Menyakiti

Ketika terbesit sebuah penghakiman buruk pada orang, mendingan tahan deh komentar pedesnya. Aksi itu berlian dan diam itu emas bagi mereka yang mengetahuinya. Tapi, daripada muncul bisikan hati menghakimi seseorang, lihat lagi poin pertama! Bertanya!

Yuk ah, berhenti men-judge dan jadi manusia yang lebih peduli.

9 komentar:

  1. kamu gadoin sgm, akuh gadoin dancow dr dulu msh sekolah sampe anak ud mau sekolah, dilaci meja kantor mah selalu siap dancow sachet yg bs kapan saja kumakan, hahahaaa... dan samaaaaa, segala rupa dikasihnya dancow.... ~_~

    baiklah, no judging aplg cewek bawaannya baperan.... Zzzzzzz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyiik dimampirin sama senior..
      Hobby yang aneh sebenernya nge-gadoin susu, tapi emang enak sih..
      Aku masih suka judge orang, apalagi kalau udah liat Path

      Hapus
  2. kebanyakan orang memang hanya menyimpulkan apa yang dilihatnya..

    dari pada berprasangka buruk lebih baik bertanya yah Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah, seperti peribahasa lama, people judge a book by its cover..
      Harus mau bertanya supaya nggak sesat di jalan
      #eh jadi inget tema lomba

      Hapus
  3. Orang memang senangnya menilai dari luar. Manusiawi sih, tapi kadang2 menyebalkan. Lebih sebel lagi kalau pas kita baper sama omongannya, orangnya malah ngejudge kita kelewat baper, lha situnya nyolot, gimana nggak baper. Hhihi..

    Pelajaran penting buat kita supaya nggak mudah menghakimi orang lain. Makasih remindernya, mbak.. salam hangat dari Pontianak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, emang susah ya ngilangin baper ini kalau jadi cewek..
      Salam balik, makasih sudah mampir..

      Hapus
  4. Setuju mba, terkadang orang hanya menilai dari penampilan luarnya saja tanpa ingin mengetahui di dalamnya..Istilahnya kita harus tabayyun dulu ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langsung googling arti Tabayyun, hihi..
      Iya, sekarang saya jadi lebih sering diam daripada sotoy terus bikin orang lain jadi salah

      Hapus

Terima kasih Sudah Berkunjung. Silakan Tinggalkan Jejak, dan Beri Masukan Untuk Kemajuan :)

Google+ Followers