Belajar Integritas dari Pak Kepala Kantor

Belajar Integritas dari Pak Kepala Kantor Pak Dwijo Muryono

Berapa lama kamu sanggup mendengar ceramah dari atasanmu?

7 menit? 15 menit? Setengah jam? Satu jam? Atau mungkin melihat namanya jadi pembicara saja kamu sudah malas hadir?
Buatku yang gampang ngantuk, rasanya kuliah tujuh menit sudah cukup lama, tapi buktinya aku justru bisa terkesima dengan ceramah motivasi dari Kepala Kantorku selama 2 jam. Bahkan bagiku masih kurang.

Berapa kali kamu mendengar gosip tentang atasanmu?

Aku yakin pasti pernah, karena biasanya para pemangku jabatan memang tak pernah lepas dari gosip miring di kantor.
Aku juga sering banget mendengar obrolan tentang Pak Kepala Kantor. Tentang anak-anaknya yang penghafal Al-Qur'an, tentang bagaimana ia menentang keras gratifikasi dan suap, tentang karirnya yang melesat ke Eselon II tanpa meninggalkan keluarga, dan tentang program baru untuk mendekatkan pegawainya di mushala kantor.

Suatu siang yang ngantuk, aku mendapat giliran menghadiri ceramah motivasi yang pembicaranya adalah Pak Kepala Kantor. Bagaimana mood-mu di kantor saat pukul 14.00? Ngantuk, kekenyangan, sudah ingin pulang, ingat anak, ah rasanya malas sekali bukan menghadiri ceramah dari atasan selama 2 jam?
Tidak bagiku. Karena Pak Kepala Kantor selalu punya banyak ilmu baru yang bisa aku ambil.

Tentang Merasa Cukup

"Hidup kita itu terasa nggak enak saat mulai membanding-bandingkan. Mobil Blazer itu enak banget buat saya. Tapi koq Blazer jadi nggak enak setelah saya mencoba X-Trail."
"Hidup itu secukupnya aja. Tidur juga secukupnya saja. Kalau kurang tidur, kita lemas dan pusing. Tapi kalau kebanyakan tidur, sama juga capeknya, pusing juga. Sama, hidup juga kalau melihat ke atas terus, kita nggak akan pernah cukup jadinya putus asa, kalau melihat ke bawah terus, kita akan jumawa, lupa diri."
"Silakan melihat ke atas, iri dengan amalan orang, berlomba dalam kebaikan, bukan cuma soal kekayaan. Silakan melihat ke bawah, agar kita lebih bersyukur, tanpa harus menyombongkan diri."

Tentang Kepemimpinan

"Mungkin jabatan saya kepala kantor. Tapi Allah nggak akan menilai jabatan saya di dunia kalau saya nggak bisa jadi panutan."
"Contoh terbaik itu perbuatan, bukan berkoar-koar anti korupsi tapi masih menerima gratifikasi."
"Saya heran dengan orang yang memperebutkan jabatan. Biasanya orang yang seperti itu tidak paham tentang esensi jabatan. Karena Jabatan itu adalah taklif (beban), bukan tasyrif (penghormatan), bukan pula ta’dhim (pengagungan) apalagi takrim (pemuliaan)."

Tentang Obat Hati

"Kalau marah, cepatlah merelakan. Kalau sedih dan kecewa, cepatlah bangkit. Kalau dendam, cepat-cepatlah memaafkan."

Beliau sangat menyoroti integritas sebagai topik ceramah motivasi. Karena memang PNS sering diasosiasikan dengan suap yang membayangi kedudukannya. Topik lain yang sering beliau angkat adalah soal merasa cukup, karena PNS identik dengan gaji yang tidak berlebih. Kalau tidak merasa cukup, ujung-ujungnya ya main belakang, korupsi terselubung, dan menggadaikan kedudukannya dengan sesuatu yang bukan haknya.

Ada banyak teladan dari Pak Kepala Kantor. Beruntunglah kantorku dipimpin seorang yang lurus dan berintegritas. Sehingga kekuasaan yang ia miliki digunakan untuk kebaikan satu kantor, 700 orang. Dan seperti yang digosipkan banyak orang, beliau memang pejabat yang tidak mencalonkan dirinya sendiri. beliau tidak sibuk memproklamirkan diri sebagai orang yang capable. Tapi beliau sibuk menunjukkan bahwa tak perlu sikut sana sini untuk jadi pemimpin. Bahkan jabatan eselon II-lah yang mengejarnya, bukan beliau yang lari-lari mengejar tahta. Beliau membuktikan bahwa menjadi baik lebih penting daripada menjadi penting. Beliau tidak sibuk teriak sana sini bahwa ia anti korupsi, tapi cukup membuktikan kalau jabatan berlari memburu beliau.

Jika kalian mengetikkan nama Pak Kepala Kantor di Google 'Dwijo Muryono', ada 2 sebutan yang melekat padanya, Kepala Kantor dan Ustadz. Beliau sebagai Kepala Kantor sudah banyak memberi contoh, menjadi guru untuk banyak orang, makanya rekan beliau menyebutnya Ustadz. Beruntunglah aku mendapatkan kesempatan untuk mengenal Pak Dwijo sebagai Kepala Kantorku. Sehingga ada banyak pelajaran yang bisa aku terapkan bukan hanya dalam dunia kerja, tapi juga dalam hidup di dunia. Google pun mencatat banyak perkataan baik beliau, memberitakan prestasi beliau, dan kebaikan beliau. Semoga malaikat selalu mencatat amal dan kebaikannya, Kepala Kantorku yang mengajarkan banyak ilmu.

2 komentar:

  1. Jarang lho pemimpin seperti Kepala Kantor Mbak ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang sedikit banget orang-orang yang lurus yang masih dikejar-kejar jabatan, kebanyakan yang ngejar jabatan..

      Hapus

Terima kasih Sudah Berkunjung. Silakan Tinggalkan Jejak, dan Beri Masukan Untuk Kemajuan :)

Google+ Followers