Semangat Baru Jika ASI Tak Keluar

Jika ASI tak keluar sama sekali, akhirnya susu formula jadi pilihan terakhir. Berawal dari teman yang bersandar di bahu sambil bilang "Sedih deh rasanya gak bisa ngasih ASI ke anak, rasanya nggak bisa jadi wanita sempurna, surga masih di telapak kaki ibu nggak ya?"


ASI vs Sufor
Sumber: citimamiblog.wordpress.com
Dari hari pertama kelahiran udah IMD, makan banyak sayur, makan makanan favorit, minum booster ASI, shopping kesana kemari biar mood bagus, massage payudara, dipompa, berdoa, rasanya segudang usaha sudah dilakukan. Tapi sampai hari ke-7 tetap nggak keluar. Akhirnya menyerah dengan full susu formula.

Saya jadi aneh dengan ibu-ibu sekarang, banyak yang terlalu merasa bersalah karena tidak bisa memberikan ASI atau hanya karena ASI mereka sedikit. Perang antara ASI dan sufor memang tak pernah berhenti. Padahal, udah jelas dari segi kandungan dan perintah agama, ASI pasti menang mutlak. Tapi, tidak menjadikan ibu yang memberi ASI lebih baik daripada ibu yang terpaksa memberikan sufor.  Seolah-olah dengan memberikan susu formula mereka memasukan barang haram pada anaknya. Seberapa kuat usaha pun, kalau Allah tidak memerintahkan kelenjar itu mengeluarkan air susu, ya kita nggak bisa maksain juga toh. Akhirnya saya menyemangati teman saya agar tidak terlalu merasa bersalah dan tetap bahagia dengan anaknya yang sehat ceria.
  1. Sedih deh rasanya nggak bisa ngasih ASI ke anak | Ya udah nggak apa-apa, yang penting anak sehat dan aktif.
  2. Tapi kan jadi kurang dekat sama anak | ASI memang menentukan kedekatan kita dengan anak, tapi nggak menentukan keshalehan koq.
  3. Anak sufor tapi ibunya di rumah tetep lebih dekat sama ibunya ketimbang yang ASI tapi ketemu cuma sebulan sekali.
  4. Visi dari mendidik anak kan jadi SHALEH. ASI atau tidaknya itu hanya misinya aja. Yang penting anak dididik dengan benar sama ibunya.
  5. Untuk dekat dengan anak kan bisa dengan cara lain, tatap deh mata anak walaupun ngasihnya pakai dot, sering ngobrol sama anak, kalau anak nangis ya dipeluk, pulang kerja jangan ngurus kerjaan kantor dan yang pasti selalu ada di saat anak butuh kita.
  6. Surga masih di telapak kaki ibu yang nggak ngasih ASI nggak ya? | Kiasan itu karena telapak kaki itu meninggalkan jejak, nah jejak langkah itu yang nantinya diikuti si anak. Ibu yang memberi ASI tapi kelakuannya gak baik, apa berlaku kiasan 'Surga di telapak kaki ibu?'
  7. Tapi ASI bisa bikin anak cerdas kan | Saya setuju kalau kandungan ASI tidak tergantikan oleh apapun, tapi kalau soal kecerdasan, itu mah sifatnya genetis dan tergantung usaha si anak, mau pintar ya belajar.
  8. Sufor kan mahal mbak | Allah memberi rezeki dari jalan lain, ada yang jalannya lewat ASI ada yang jalannya lewat materi. Bersyukurlah mbak diberi materi lebih, ya itu untuk beli susu. Belum tentu juga kalau ASI subur lantas bisa saving lebih.
  9. Ngasih ASI kan kewajiban juga | Iya memang ada di QS. Al-Baqarah : 233, tapi coba baca kelanjutannya, ayatnya jangan dipotong gitu aja, kalau ingin menyapih sebelumnya dan keduanya setuju ya nggak jadi dosa, kalau mau disusukan orang lain ya kasih bayaran yang patut. Allah itu nggak akan mempersulit makhluk-Nya koq.
  10. Yang dosa tuh kalau memang alasannya malas, biarin aja pembantu yang capek bikin dan ngasih sufor ke anak, atau kayak artis yang takut payudaranya berubah. Tapi, siapa juga sih yang bisa mengecap dosa atau nggak?
  11. Dapat pahala nggak ya? | Yang dinilai itu kan prosesnya, kalau udah usaha untuk memberikan ASI, ya soal pahala urusan Allah. Emangnya ibu yang ngasih susu formula nggak capek? Mereka yang lebih capek karena malam-malam harus bikin susu.
  12. Sekarang lagi gencar program ASI dimana-mana | Iya bagus, makin banyak yang akhirnya sukses menyusui sampai 2 tahun. Banyak pengetahuan dari ibu-ibu yang mau sharing pengalaman dan ilmu tentang menyusui. Tapi saya nggak setuju dengan ibu yang pamer, menurut saya menyusui pada dasarnya kewajiban dan ibadah, sedangkan kita nggak boleh pamer ibadah. Jika memang ingin mengedukasi, cukuplah berikan langkah dan cara agar ASI banyak.
  13. Tapi, ada hal yang saya nggak setuju dari AIMI, katanya bayi baru lahir jangan dulu dikasih madu. Sedangkan metode tahnik yang diSunnahkan Rasul menyuruh agar bayi dikasih sari kurma atau madu. Ternyata Sunnah Rasul ini bermanfaat agar si bayi tetap dapat makanan menunggu ASI si ibu keluar. Ah, Rasul memang mempermudah hidup saya.
  14. Kenapa ibu-ibu sekarang harus memberitahukan dunia kalau mereka bisa menghasilkan banyak ASI?
  15. Menurut saya menyusui itu pekerjaan, misalnya pekerjaan saya sopir angkot, saya nggak perlu lah berkoar-koar kalau saya sudah mengantarkan penumpang selamat sampai tujuan, terus memproklamirkan diri bahwa saya adalah sopir angkot dengan banyak penumpang.
  16. Iya, memang bisa mendapat ASI banyak itu membanggakan, tapi nggak perlu lah kayak pemain bola, setelah pumping banyak lantas selebrasi berlebihan sambil foto dengan caption "Yeeeeeaaaaah, setengah liter sekali pompaaaaa." dan akhirnya membuat ibu-ibu yang dapat 100 ml berkecil hati.
  17. Ah mbak bilang gitu karena ASInya banyak | Definisi banyak segimana sih? Kata yang nggak bisa ngasih ASI, 100 ml itu banyak. Yang dapat 100 ml, cemburu sama yang dapat 250 ml. Yang dapat 250 ml sirik dengan hal lain dan bilang "Mereka banyak banget uangnya ya". Ah, selalu aja cemburu pada rezeki orang lain.
  18. Mbak mah nggak ngerasain nggak bisa ngasih ASI | Oke, saya juga akan sedih ketika tidak bisa memberi ASI, tapi kan dunia tetap harus berjalan, visi anak shaleh harus tetap dicapai, kewajiban mendidik anak harus diselesaikan. Kalau dibayangi terus rasa bersalah karena tidak memberi ASI, itu sama aja menyalahkan Allah karena nggak ngasih ASI.
  19. Ibu-ibu sekarang seperti bersaing mendapat ASI lebih banyak, padahal ibu-ibu dulu nggak tahu seberapa banyak ASI yang dihasilkan karena menyusui langsung. Mungkin aja kan ibu-ibu jaman dulu ASI-nya lebih banyak.
  20. Kasihan anak saya dikatain terus anak sapi | Saya juga sering dikatain sapi perah karena mompa ASI. Biarin aja lah.. 
  21. Rasanya belum jadi wanita sempurna karena nggak bisa ngasih ASI | Wanita sempurna emang apa sih kriterianya? Bagaimanapun kepribadian bagi seorang wanita lebih penting.
Saya pro ASI dan tidak anti sufor. Postingan ini bukan excuse bagi para ibu-ibu yang malas memberi ASI, tapi hanya menguatkan ibu-ibu yang sudah berusaha memberi ASI tapi TERPAKSA memberi sufor. Bagaimanapun ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Tapi, tak perlu berkecil hati jika tak bisa memenuhi kebutuhan alami bayi akan ASI. Yang penting ibu terus semangat mendidik anak biar tetap sehat dan shaleh.

9 komentar:

  1. drama abis,,klo ASI nggak mengucur T_T huhuhuhu,,, ibu macam apa inihhhhh..nggak bisa ngasih makan ke bayinya. Yang penting sih memang USAHA, apapun itu hasilnya, klo kita usaha mah ALLAH pasti kasih jalan, bener aja selama 3 hari saya donor ASI, Segala upaya saya lakukan dan alhamdulillah ASI keluar walaupun nggak sebanyak yg diinginkan, tapi tetap dengan tekad 2000% saya nge-ASI, wlopun setelah anak usia 1 tahun dengan rela harus melepas dengan SUFOR, toh nggak papa juga kan?? namanya ibu maunya anak tetap dapat nutrisi,,, betul kata mak annis, bahwa visinya kan untuk anak jadi sholehah ya kan,, tos dulu ah ,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat maaak.. Usaha ibu memang tak pernah kurang untuk anaknya, dramanya juga bercucuran keringat dan air mata. Kalau mau semangat, lihat ibu-ibu yang dapat ASI banyak, tapi tetap harus bersyukur dengan ASI yang kita dapat, lihat ibu-ibu yang ASInya lebih sedikit atau nggak bisa ngasih ASI. Setahun udah hebat ituuu, perjalananku pumping masih lama..

      Hapus
  2. Yang paling penting kan sebenarnya kesehatan anaknya ya Mba. Nah klo memang ASInya ga keluar masak iya sih anaknya ga disusuin. Saya sih ngasih ASI juga meskipun enggak ASIX, dan merasa sedih klo soal ASI ini jadi perdebatan terus. Bukannya saling support malah bikin yg nggak bisa ngasih ASI tambah down.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya di AIMI dilarang keras membahas ASI vs Sufor, atau nyebutin hasil perahan, karena bikin kecil hati yang nggak bisa dapat sebanyak itu. Yang penting visi semua ibu sama, "Mencetak generasi shaleh dan cerdas"

      Hapus
  3. meskipun saya belum nikah, tapi saya sangat memahaminya terimakasih infonya

    BalasHapus
  4. Gagal ASIX di anak pertama juga kadang bikin gampang sensi kalau ada yang bahas ASI VS SUFOR *sedih*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nantinya kasihan si anak juga jadi kita banding2in, "Apa si adik lebih ini itu karena ASI ya?"..terus merasa bersalah..

      Hapus
  5. Makasih ya mbak tulisannya.....jujur aja saya memang sedih Dan sang at merasa bersalah. Apapun usaha sudah saya jalanin, Pijat makan sayur, kurma, sampai yg kekinian booster ASI dgn berbagai Varian....ini Anak ketiga saya, Dan Anak laki pertama. Rasanya down..kalau gak mau dibilang hancur. Kakak Dan mbaknya ASI smp 3 thn. Saya mmg blm tau pasti gagal kasih ASIX ini krn saya SC, sebelumnya sllu normal spontan, atau karena ada faktor lain....:'( Baru 3 minggu tapi karena ASI saya benar2 sedikit, sudah campur sufor .:'(

    BalasHapus
  6. Where have you been, mbak? Postingan kaya begini nih yang saya cari dari kemarin-kemarin. Terimakasih sudah sharing. God bless you!

    BalasHapus

Terima kasih Sudah Berkunjung. Silakan Tinggalkan Jejak, dan Beri Masukan Untuk Kemajuan :)

Google+ Followers