Tips dan Trik Mengelola Keuangan Keluarga

Pasangan nekat, itulah aku dan suamiku. Usia 22 tahun sudah menikah dengan modal gaji magang yang jumlahnya tidak lebih dari dua juta setelah digabungkan. Nafsu foya-foya di usia muda yang belum dapat dikendalikan, hedonisme yang tidak berkurang, penghamburan yang tidak perlu membuat cashflow kami acak-acakan. Boro-boro masa depan, rasanya besok hari bisa makan tanpa terusir dari kontrakan saja sudah lumayan. Kami punya visi, membangun keluarga sakinah, mawadah, warahmah membentuk anak shaleh dan shalehah. Salah satu faktor pewujudnya adalah masalah finansial yang terarah. Tapi sayang, misi kami berantakan, strategi juga tak terpikirkan. Ternyata membina keluarga bukan hanya tentang cinta. Dibutuhkan kebijaksanaan yang luar biasa untuk keluarga bisa sejahtera.

Aku jadi ingat dengan slogan yang pernah kuucapkan untuk memuji diri sendiri:
"Arif is my middle name" -Annisa Arif Rizqiani
Arif, memang itu nama tengahku. Bukan karena ayahku Pak Arif, tapi karena ayah menginginkanku menjadi orang yang bijak. Bijak dalam mengambil keputusan, bijak dalam menghadapi masalah, bijak dalam mengatur pola hidup, dan bijak dalam mengatur keuangan. Akan sedih sekali jika beliau tahu doa dalam nama anaknya tidak terkabul. Karena aku malah sibuk hidup hanya untuk hari ini dan besok, tidak berpikir 5 atau 50 tahun ke depan.

Putri pertama, hadir sebagai anugerah untuk kami berdua. Selain membuat semua berbahagia, ia membuat kami memikirkan masa depannya. Tak ada lagi gaya hidup semena-mena, bahagia jangka panjang lebih utama. Kami akhirnya berstrategi lagi, membuat formula lagi, menyusun rencana keuangan lagi. Kami berguru lagi, pada teman-teman yang lebih senior, pada orangtua kami, pada orang-orang bijak di sekeliling kami. Kami membaca buku, kami mencuri ilmu dari raja lelang, penulis novel atasan di kantor, sampai asisten rumah tangga.

Hari ini, keuangan kami membaik. Berkat mendengar kata mereka dan mencuri ilmu mereka. Inilah kata mereka:
Ust. Ahmad Ghazali: "Jangan Sisakan Gaji Anda, Habiskanlah!!"

Resep yang satu ini dari buku Habiskan Saja Gajimu karya Ust. Ahmad Ghazali. Sungguh menghabiskan uang itu lebih menyenangkan daripada harus mati-matian menyisakannya. Uang kami tak bersisa, tapi justru kami bahagia baik di awal maupun di akhir bulan. Kami habiskan, kami habiskan semuanya untuk:

1. Zakat dan Infaq

Demi mensucikan harta, zakat dan infaq harus dikeluarkan pertama. Sehingga kami yakin harta kami suci, milik sendiri, tak tercampur hak orang lainnya. Allah menyegerakan gaji kami di awal bulan, kenapa bayar zakat harus diakhirkan? Jika kita selalu suka barang baru, kenapa untuk Allah harus sisa?

2. Gaji ART

Pengeluaran Awal Bulan
Kalimat dari mama, "Bayarlah upahnya sebelum kering keringatnya". Demi memotivasi pekerjaannya, tak baik juga menunda hak si bibi. Jika hakmu yang ditunda, bagaimana rasanya?

3. Utang

Cicilan rumah, bayar kontrakan, tagihan kartu kredit, atau utang ke orang lain, harus punya deadline di awal bulan. Karena bagaimanapun utang ini adalah kewajiban. Batasi saja pengeluaran untuk utang ini sekitar 30-40%.

4. Kebutuhan Bulanan Rumah Tangga

Listrik, air, SPP sekolah anak, premi asuransi, service kendaraan, dan tagihan rutin bulanan lainnya yang tak dapat ditawar menduduki prioritas utama. Jumlahnya yang fix, keberadaannya yang tak kenal nego, juga akan berpengaruh buruk terhadap keberlangsungan hidup. Menerima gaji di awal bulan tidak lantas bisa enak makan-makan.

5. Tabungan

Papa bilang "Bisa karena biasa atau bisa karena terpaksa". Menyisihkan uang atau menyimpan satu gram emas setiap awal bulan memang terpaksa. Jika tidak dipaksa, pasti kami tidak akan punya, uang juga habis entah kemana. 10-20% kami sisihkan untuk dana tabungan ini. Dana cadangan masa depan ketika terdesak butuh uang banyak, tak perlu sibuk cari pinjaman.
Alhamdulillah, masih ada sisa. Ini bagian paling menyenangkan.

6. Habiskan Sisanya

Sisa uang kami lumayan setelah dikurangi semua kewajiban. Sekarang waktunya menghabiskan sampai akhir bulan. Makan, jalan-jalan, perawatan, luluran, hangout sama teman, bisa disesuaikan. Disesuaikan bagaimana? Kalau sisanya besar ya syukur, bisa makan daging walaupun mahal, shopping ke mal, jalan-jalan pakai taksi, hangout di cafe, dan luluran di salon. Kalau sisanya sedikit, ya fleksibel, makan sayuran atau bahkan puasa, belanja ke pasar, jalan kaki, luluran di rumah, atau hangout ke perpustakaan.
Untuk jangka pendek, kami merasakan senang-prihatin, pizza-tempe, mal-pasar, taksi-kopaja, dan resto-warteg. Untuk jangka panjang, kami tak khawatir. Karena yang terpenting kami memenuhi semua kewajiban, kami tak bingung dengan utang, kami punya dana cadangan, walaupun kami tak punya sisa uang. Tak punya sisa uang bukan berarti tak punya uang. Biar dikatai menghemat, orang lain tak ada yang tahu berapa isi rekening kami.


HL, Seorang Raja Lelang: "Nilai Uang Selalu Turun, Berinvestasilah!!"

Resep ini aku dapat dari seorang raja lelang saat open house pelelangan di Tangerang. Kalimatnya hanya "Beli mobil buat usaha, jangan buat gaya! Beli tanah bukan buat spekulasi, tapi buat menyaingi inflasi". Kalimat inilah yang membuatku berpikir tentang kesehatan ekonomi jangka panjang. Caranya? Investasi, menabung, beli logam mulia, beli barang produktif, beli properti yang akan meningkat nilainya, buat bisnis kreatif, dan ada banyak kegiatan lainnya. Barang yang produktif, barang itu yang menghasilkan uang nantinya. Barang konsumsi, akan habis di makan waktu dalam beberapa tahun saja.
Adhitya Mulya: "Kita Tak Pernah Tahu Masa Depan, Rencanakanlah!!"


"Istri yang baik akan siap diajak melarat, dan suami yang baik tidak akan membiarkan istrinya melarat" -Adhitya Mulya
Aku siap melarat, tapi siapa yang ingin terus melarat? Agar tidak ada yang melarat di masa depan, kami buat daftar pertanyaan:
- Berapa pemasukan dan pengeluaran bulanan?
- Berapa tabungan tiap bulan?
- Investasi emas, deposito, properti, atau saham?
- Pengeluaran tak terduga dari mana sumbernya?
- Cicilan mobil dan rumah lunas di usia berapa?
Kami tak tahu bagaimana masa depan, asuransi menjadi jawaban. Kami tak tahu biaya sekolah anak-anak kami 10 tahun mendatang, ada asuransi pendidikan. Kami juga tak tahu soal sehat dan sakit seseorang, tenang, ada asuransi kesehatan. Tapi, tetap harus jaga kesehatan.


Asuransi Melindungi Keluarga via Brighterlife.co.id
Pejabat di Kantor: "Keuangan Harus Tertulis, Laporkan!!"

Atasanku di kantor bilang "Laporan keuangan selalu jadi patokan kesehatan perusahaan, begitupun untuk keuangan keluarga". Aku adalah manajer keuangan, suamiku adalah auditornya. Aku harus tahu berapa kekuatan dan suamiku yang mengecek efektivitasnya.


Suamiku: "Wanita Selalu Lapar Mata dan Haus Diskon, Tahan!!"

Sebagai pasangan yang satu visi, aku dan suami saling belajar dan menasehati dalam kebaikan. Suamiku sering menggandengku saat berbelanja. Selain itu romantis, juga demi membangun keluarga sejahtera. Suamiku mengajariku perbedaan pria dan wanita menanggapi diskon dan promo. Suamiku mengajariku tentang sudut pandang pria sebagai tulang punggung keluarga. Dan akhirnya aku menerapkan formula khusus untuk diriku sendiri ketika berbelanja.
  • Pertama, saat belanja online pilihlah harga yang paling murah atau penjualan terbanyak (ini menunjukan toko mana yang terpercaya sekaligus murah). Tak perlu keluar rumah, membandingkan harga keluar-masuk tiap toko. Belum capeknya, belum ongkosnya, belum lagi parkirnya. Jadi, Belanjalah Online dengan Menggunakan Fitur Sortasi.
  • Kedua, ketika belanja mingguan ke pasar, aku bawa uang pas Rp. 250.000,-. Ketika uang habis, belanja berakhir. Bawalah Uang Pas saat Belanja.
  • Ketiga, untuk keperluan dapur aku selalu belanja di pasar tradisional. Harga lebih murah, bisa nego, barang fresh, juga membantu memperbaiki perekonomian rakyat sekitar. Kalau sudah langganan, bonus pun lumayan. Bagaimanapun, Pasar Tradisional Selalu Lebih Murah.
  • Keempat, bandingkan harga produk yang sama dengan ukuran berbeda. Kesimpulannya? Ukuran Besar Relatif Lebih Murah.
  • Kelima,  membeli barang diskon boleh saja, tapi harus Cerdas Mengambil Diskon. Tak masalah langsung beli banyak, jika harganya normal, tanggal kadaluarsanya masih lama, dan bukan produk gagal.
  • Keenam, pemasukan dan pengeluaran apapun harus aku catat. Catatan disesuaikan dengan uang di tangan setiap minggunya. Catatan setiap bulan dibandingkan dnegan bulan lainnya. Jadi kami tahu, kapan harga-harga pangan naik, kapan harga emas turun, kapan leluasa jalan-jalan, dan kapan harus menghemat. Jadi pasti aku harus Membuat Laporan Keuangan Keluarga.
Si Bibi: "Akan Datang Sekali Setahun Tapi Menguras Tabungan, Siapkan!!"

Lebaran kemarin ARTku, si bibi bilang "Padahal lebaran hanya sehari dalam setahun, tapi semua orang sibuk menghabiskan tabungan". Lebaran akan datang, STNK harus diperpanjang, PBB harus dibayar, anak akan masuk sekolah, kelahiran juga butuh biaya, dan momen jarang lainnya pasti akan terjadi sekali dalam setahun. Tapi, setelah bayar bisa menguras tabungan. Inilah fungsi dana cadangan untuk menanggulangi beban-beban tahunan yang jumlahnya tak sedikit.

Itulah formula keuangan yang kami curi dari orang-orang sekitar. Terima kasih kuucapkan kepada kalian atas kalimat ringan yang membantu memperbaiki perekonomian. Walaupun usia kami masih muda, haus akan hedonisme dan cinta barang mewah, tapi kami memaksa diri untuk hidup terarah. Tak ada lagi bermewah-mewahan di awal bulan lantas ngutang sana sini di hari kemudian. Tak ada lagi pengeluaran fiktif, semua tercatat dan harus efektif. Tak perlu khawatir hidup melarat, karena kami punya persiapan untuk 50 tahun mendatang. Demi si kecil, demi kami, demi keluarga kami, dan demi masa depan kami yang lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih Sudah Berkunjung. Silakan Tinggalkan Jejak, dan Beri Masukan Untuk Kemajuan :)

Google+ Followers