Ketika Iri Tak Pernah Berhenti

Ketika Iri Tak Pernah Berhenti

Manusia tak akan pernah berhenti iri. Itulah kenyataannya, bahkan Rasulullah dengan kecerdasannya sudah tahu sejak dulu. Ketika manusia sudah punya sebukit emas, dia akan inginkan dua bukit emas. Bahkan ketika ia sudah punya dua bukit, ia inginkan emas yang lebih banyak lagi. Terus saja tak pernah puas dengan yang sudah dipunya.

Karena aku juga salah satu anak Adam, nggak munafik juga masih banyak rasa iri ketika melihat orang lain punya kelebihan. Semuanya ingin aku dapatkan. Ingin punya rumah mewah tapi ingin tetap mencicip dunia hedonisme, ingin tetap langsing tapi ingin tetap makan banyak, ingin suami punya gaji besar tapi ingin dia selalu ada di samping kita, ingin punya pendapatan pribadi tapi ingin selalu bersama anak, pokoknya ingin semuanya. Bahkan jadinya serba salah, nggak mau ada yang dikorbankan.



Aku sering berpikir bahwa iri adalah sebuah lingkaran setan yang tak pernah berhenti. Dan aku baru lihat komik yang satu ini, sepertinya bisa menggambarkan lingkaran iri yang aku maksud.

Ketika Iri Tak Pernah Berhenti
Lingkaran Iri
Lingkaran iri di atas masih kecil, tapi lingkaran iri yang pernah kurasakan sudah besar, semuanya berhubungan. Teman A iri pada B, B iri pada C, Y iri pada Z, dan Z iri pada A. Lingkaran iri ini seperti lingkaran besar permainan 'Ada Sebuah' dimulai dari aku:
  • Aku iri pada orang yang bisa tinggal di Bandung, kampung halamanku, biar bisa dekat dengan orang tua dan keluarga.
  • Anak yang kuliah di Bandung dekat dengan orangtuanya iri pada teman SMA-nya yang kuliah merantau di ibukota.
  • Anak rantau jomblo ini iri pada teman kuliahnya yang tiap minggu bisa pacaran dengan alasan belajar bareng.
  • Eh ternyata pasangan ini iri dengan kakak kelasnya yang udah kerja PNS dengan gaji bulanan yang jelas, nggak perlu lagi nunggu kiriman uang dari orangtua.
  • Si PNS ini iri pada pengusaha kaya yang tak perlu absen kantor, tak perlu seragam harian, tak perlu atasan yang super bossy, tak perlu ruangan yang membuat bosan setiap hari.
  • Si pengusaha kaya yang belum menikah juga iri dengan kawannya yang sudah menikah, 'Jadi ada yang mengurusi' itu pikirnya.
  • Orang yang sudah menikah ini sudah 8 tahun tak dikaruniai anak, iri pada pasangan muda yang sudah punya 2 buah hati pelepas lelah sehabis bekerja.
  • Yang sudah punya anak juga iri karena ternyata si istri tak bisa memberi ASI, ia iri pada ibu yang sukses ASI eksklusif.
  • Ibu yang bisa memberi ASI iri pada ibu yang ASI-nya sekulkas penuh, berkantong-kantong penuh.
  • Ibu yang ASI-nya subur sudah jarang shopping, iri pada istri pejabat yang tiap hari keluar dari toko H&M masuk ke Zara, bawa dress baru dari Bershka, menenteng tas baru dari Bonia dengan aroma tubuh baru dari Victoria's Secret.
  • Si istri pejabat iri dengan temannya yang bisa belanja dengan voucher hadiah dari lomba blog.
  • Si blogger ini ternyata tiap bulannya harus berobat, dan iri dengan sahabatnya yang bisa ikut reportase kemana-mana, aktif dimana-mana.
  • Tapi si reporter justru susah tidur karena terus dibayangi dengan ribuan kata yang ingin disusunnya, ia iri dengan gelandangan yang dilihatnya tadi pagi bisa tidur nyenyak di tengah bisingnya kendaraan.
  • Dan gelandangan ini iri pada artis di layar kaca yang baru saja pindahan ke rumah baru yang harganya 5M, sedangkan ia tidak punya tempat tinggal barang 5 meter persegi saja.
  • Eh, si artis ternyata iri pada selingkuhan suaminya karena cintanya terbagi dua, gadis muda cantik dengan badan indah pujaan setiap lelaki.
  • Gadis muda itu justru iri dengan wanita muslimah yang sudah berjilbab dan terlindung dari godaan laki-laki jelalatan.
  • Si wanita muslimah ini iri pada sahabat seperjuangannya, dakwahnya didukung oleh suaminya dan selalu diantar jemput kemana-mana.
  • Wanita pendakwah ini yang suaminya terlalu kalem justru iri pada AKU yang sering digenggam oleh suamiku.
See, lingkaran iri yang tak akan pernah habis, tak pernah berhenti.

Sebenarnya yang membuat iri itu adalah: Karena Kita Tahu. Ya, karena kita tahu orang itu punya kelebihan, jadilah kita ingin seperti dia. Karena aku tahu temanku gajinya lebih besar, jadilah aku iri dengan gajinya. Coba kalau aku nggak tahu, aku lempeng-lempeng aja dan lebih bersyukur dengan gajiku tanpa harus membanding-bandingkan. Karena kamu tahu kalau mantanmu udah jadian lagi sama cewek lain, makanya kamu iri, hati kamu remuk lagi. Coba kalau kamu nggak kepo dan cari tahu tentang dia, kamu pasti nyantai aja dan bersyukur dengan kesendirianmu tanpa harus merasa kalah dengan mantanmu. Ups, ada yang kesindir?

Mungkin kebahagiaan itu adalah tidur yang nyenyak, atau bagi sebagian yang lain adalah rumah mewah, atau suami yang mesra, atau punya banyak teman, atau bisa eksis di media sosial. Tapi itu hanya sanggkaan aja. Padahal ternyata kita sudah memiliki kebahagiaan yang diinginkan orang lain. Apa mau menukar apa yang sudah kita punya dengan apa yang kita sangka itu kebahagiaan kita? Misalnya, apa aku rela tinggal di Bandung lantas kehilangan suami yang begitu mesra? Atau relakah pengusaha kaya yang belum menikah menukar segala kekayaannya dengan pernikahan? Ah, belum tentu. Yang ada, aku ingin tinggal di Bandung DAN suami tetap mesra. Yang ada, si pengusaha ini bisa menikah DAN tetap kaya raya. Kita nggak pernah mau menukar, dan ingin bukit emas kita terus bertambah tanpa mau berkorban apa-apa.

Bagaimana agar kita tidak iri? Coba balik arah lingkarannya. Aku melihat bahwa suami orang lain terlalu dingin pada istrinya. Si wanita pendakwah melihat bahwa sahabatnya tidak mendapat dukungan dari suaminya. Atau si ibu yang bisa memberi ASI melihat bahwa ada ibu lain yang tak bisa memberi ASI pada anaknya. Si ibu yang punya anak mengetahui ada banyak pernikahan lain yang belum juga dikaruniai anak. Yang sudah menikah melihat ada orang lain yang berpuluh-puluh tahun menjadi perawan tua. Dengan melihat ke arah sebaliknya, kita akan berhenti iri menengadah pada yang lebih tinggi. Kita bisa lebih bersyukur dan tak perlu sibuk mikirin kepunyaan orang.

Intinya, manusia memang tak akan pernah berhenti iri.
Tidak akan.

Kecuali setelah ia bersyukur dengan apa yang dimiliki dan bisa melihat ke arah lingkaran yang sebaliknya.

So, ayo berhenti iri dan lepaskan ikatan dari lingkaran setan ini, dan berhenti bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki.

6 komentar:

  1. Tul! Bersyukur dengan apa yang kita miliki aja, Mak. Ngapain iri ya? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inget aja mungkin di sana ada orang yang justru iri sama kita..

      Hapus
  2. Aku jadi inget temenku pasang bbm pakai tas mihil. Suamiku kebetulan liat, terus bilang, itu kan tas mahal.
    Aku cuma jawab, oya?

    Hahaaa...
    Secara aku kudet soal branded, Mak

    BalasHapus
  3. Iri itu bikin capek, membakar hati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mendingan inget kalau ada orang lain yang mungkin iri juga dengan kelebihan yang kita punya..

      Hapus

Terima kasih Sudah Berkunjung. Silakan Tinggalkan Jejak, dan Beri Masukan Untuk Kemajuan :)

Google+ Followers