Ketika Wanita Repot Menutup Tubuhnya



http://adriannisa.blogspot.com/2015/11/ketika-wanita-repot-menutup-tubuhnya.html

Aku sangat percaya kalau wanita memang harus repot. Repot mengurus anak, repot dengan pekerjaan rumah yang tak pernah selesai, repot membahagiakan suami, repot dengan pakaiannya, dan repot dengan larangan-larangan padanya.

Dalam hal berpakaian memang wanita akan lebih repot daripada laki-laki. Aurat yang harus ditutupi jauh lebih banyak, dan ketika aurat itu tersingkap, yang dosa bukan hanya dirinya, tapi juga suaminya, ayahnya, saudara laki-lakinya. Repot deh semua.




Ini aku rasakan di awal-awal pernikahanku. Aku yang masih asyik dengan jilbab gaulku merasa terusik dengan kalimat-kalimat suamiku
"Kamu tega aku harus nanggung dosa kamu sebanyak bulu kaki di pergelangan tangan kamu?" Ketika lengan bajuku mengangkat ke atas.
"Itu jilbab atau kabel telepon? Dililit-lilit segala." Sepertinya karena ia lama menungguku berkaca saat memakai jilbab.
"Cantik deh pakai gamis gini, aku beliin selusin deh, tapi celana-celana jeans kamu disumbangin aja ya" dan aku tetap mempertahankan baju-baju lamaku. Agak gimanaaa gitu kalau orang lihat aku pakai gamis.Suamiku menjawab lagi "Berjilbab itu justru biar nggak dilihat orang lain"
Sungguh repot rasanya kalau aku harus berjilbab lebar dengan gamis yang ribet dipakai. Waktu berlalu dan aku pun menjadi ibu. Sahabatku menghadiahiku gamis dengan kancing depan untuk memudahkan menyusui. Tanteku juga menjahitkanku sebuah gamis jeans katun yang juga busui friendly. Entah kenapa setiap aku pakai gamis itu, suami pasti bilang 'Ih, geulis pisan istri Aa'. Dan itulah cara terbaik suamiku melunakkan tulang rusuknya yang keras ini. Dengan pujian berkali-kali. Akhirnya aku jadi sering membeli dan memakai gamis saat bepergian.


Gamis Hadiah Busui Friendly
Gamis Hadiah dari Sahabat dan Tante

Dalam suatu majelis ilmu aku menyerap satu hal tentang cara berpakaian wanita yang benar. Kalau pakaiannya sudah siap dipakai shalat, berarti dia sudah berpakaian yang benar. Yang biasa dipakai shalat ya mukena. Karena orang-orang di Arab sana sudah pakai pakaian sesuai syariat, mereka tidak perlu memakai mukena. Di Indonesia sendiri, mukena tercipta karena pakaian sehari-hari kita belum siap dipakai shalat. Kalau digambarkan hijab syar'i itu seperti ini:


Hijab Syar'i vs Hijab Gaul
Hijab Syar'i, Sumber: gizanherbal.wordpress.com

Ya, pakaian yang benar ternyata memang bentuknya seperti mukena. Dan yang paling mirip mukena dan siap dipakai shalat ya gamis dan jilbab panjang. Repot ya? Ya memang harus repot. Tapi, Allah selalu suka dengan kerepotan kita dalam beribadah.

Untuk mengurangi kerepotan kita dalam memakai gamis, ada beberapa hal yang bisa dipraktekan:
  • Memilih Bahan yang Adem
Gamis-gamis yang aku punya memang disesuaikan dengan suhu kota Tangerang. Gamis dari sahabatku berbahan katun yang menyerap keringat. Gamis dari tanteku berbahan katun semi jeans yang tetap adem. Tidak ada alasan lagi repot memakai gamis karena panas. Kalaupun berkeringat, kan keringatnya dibayar surga. Aamiin.
  • Tak Perlu Menambah Repot dengan Asesoris Berlebihan
Berpakaian itu repot? Iya, kalau banyak asesorisnya, kalau banyak lilitan di jilbabnya, kalau lingkar dadanya menyesakkan, dan kalau kamu berpakaian ala Syahrini. Model berpakaian yang sederhana akan lebih ringan dipakainya. Aku lebih nyaman dengan jilbab dengan satu bros saja tanpa dililit-lilit.
  • Menyesuaikan dengan Kebutuhan
Untuk ibu menyusui, ya pilih gamis yang busui friendly. Untuk aku yang harus naik motor, pilih gamis yang bagian bawahnya lebih lebar. Untuk ibu yang anaknya masih kecil, pilih warna gamis yang nggak gampang terlihat kotor. Untuk ibu yang ingin gamis siap shalat kapan saja, pilih saja gamis yang seperti mukena.


Gamis Mukena Ahza
Gamis Mukena, Sumber: ahzaaufa.com
Bagiku memang harus punya anak dulu barulah aku bisa lebih syar'i. Harus dipuji dulu barulah berpakaian yang lebih baik lagi. Repot? Ah nggak juga. Kalaupun repot, tapi kan Allah suka. Bukan cuma Allah, tapi suami juga makin cinta karena istri sudah mau melindungi dirinya terhindar dari dosa. Walaupun ketika aku memakai gamis suami sering meledek 'Chiee pakai gamis, Aa jadi makin senang lihatnya.'
Sambil agak kesal aku jawab saja 'Aku pakai gamis bukan untuk dilihat kamu, tapi biar gak dilirik orang lain'.

18 komentar:

  1. aku suka banget sama lele yang sekarang, sukak! yuuk sama2 hijrah, sama2 belajar, dan ingat, dengan tidak menganggap diri yang paling baik dan tidak menghakimi siapa pun. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. K Combrooooo.. Ihihi, ketemu di blog juga ya.. Mana nih blog nya?
      Aku lg belajar bergamis juga Mbak, terpaksa sih gara2 si ayank, tapi ternyata jadi nyaman apalagi buat ibu menyusui..
      Aah, terharu ada orang di dunia nyata yg BW ke blog aku..

      Hapus
  2. LELEEEE blogmu udah banyak iklannya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh K Change, dibaca gaaak?
      Iya, mau serius nge-blog ngumpulin dollar..haha

      Hapus
    2. aku itu silent reader dimanamanaaa.. termasuk punya changek! hihihii.. (plis abis ini jangan diblock ^^v)
      setiap orang berubah ya..dan perubahan ke arah yang lebih keceeh, why not?? *mendadak lupa sama lele jaman diklap :P

      Hapus
    3. Dulu belun ketemu si ayank mbak, hehe.. Masih urakan korban pergaulan, sekarang udah jadi ibu harus ngasih teladan..
      Sedikit banyak pasangan juga yang merubah siapa kita..

      Hapus
  3. wehhh kalo ini mah setuju banget sama pendapayt di atas mbak.
    salam kenal ya mbak.e
    semoga sukses GA nya ya ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang fitrahnya harus repot ya mbak..

      Hapus
  4. hijabnya panjang bener ya mak.. kayak mukena.. aku juga lagi belajar pake yang syari mbak... pelan2..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga gak sepanjang itu koq, palingan pakai jilbab persegi 130cm aja.. Yuk, sama2 repot belajar..

      Hapus
  5. Wah cerita yang sangat menginspirasi.. Awalnya gak niat, lalu terpaksa, akhirnya sadar juga ya mbak untuk memakai hijab syar'i :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku banget ituu, awalnya kepaksa, ditutup-buka, sadar dipakai terus, dan menutup lebih baik lagi.. Tapi perubahannya itu lambat banget..

      Hapus
  6. hihuiiii..emang iya..kudu pas milih bahan, secara suhu tangerang emang minta ditabok, panasshh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Nita juga orang Tangerang ya? Sama nih, udah terbiasa panas n nyamuk..

      Hapus
  7. Mbak, gamis yg dari Tantenya itu cantik deh, suka lihatnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau pesen? Hehe, berasa ng'endorse.. Emang denim tuh selalu keren mau jadi model apapun

      Hapus
  8. Sebenarnya cuma soal kebiasaan yah. Pakai lebar2 kalau udah biasa mah ga berasa repotnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin juga, kalau saya masih membiasakan sih, jadi masih kerepotan..hehe

      Hapus

Terima kasih Sudah Berkunjung. Silakan Tinggalkan Jejak, dan Beri Masukan Untuk Kemajuan :)

Google+ Followers