Luka Bersejarah dan Permainan Masa Kecil

Luka Bersejarah dan Permainan Masa Kecil

Luka tubuh dan permainan masa kecilku dulu punya korelasi erat yang panjang ceritanya. Mungkin tak akan dirasakan oleh anak generasi mendatang. Aku memang perempuan, tapi lariku bisa lebih kencang daripada laki-laki sebayaku, bersembunyi bisa paling lama dari teman yang lainnya, dan loncat bisa lebih tinggi dari tinggi badanku sendiri. Tapi itu dulu, saat aku masih cekatan melesat cepat, saat aku tak keberatan wajahku terpapar matahari siang bolong, saat aku senang memplester tubuhku seperti Sherina sebagai tanda anak jagoan, itu dulu.

Sekarang yang tersisa adalah luka tubuh yang tak bisa hilang dan keloid yang sudah lama mengering di lutut kanan dan kiri. Tapi, aku tak pernah sedikitpun menyesal dengan luka-luka yang ada di tubuhku. Bagiku ini bukan luka, tapi sejarah besar hidup Annisa. Hahaha.. Saking bersejarahnya luka di tubuhku, aku sengaja membuat ruang khusus di Scrapbook yang menceritakan tentang semua luka yang ada di tubuhku dan cerita kenakalanku waktu kecil.

Scrapbook Luka Tubuh Masa Kecil


Ada 5 permainan masa kecil yang paling aku sukai dan meninggalkan luka dan pelajaran bagiku.

Loncat Tinggi/Loncat Tali

Permainan Masa Kecil Lompat Tali
Sumber: pixoto.com

Aku dan teman-temanku adalah penguasa jalanan. Kami terbiasa membentangkan tali selebar jalan di depan rumah. Kami terbiasa patungan uang untuk membeli 1/4 kg karet untuk kemudian kami sambung menjadi tali panjang. Ada 3 jenis permainan karet, yaitu loncat tinggi, menyanyi sambil menari dengan melilitkan tali karet di kaki, atau menyebrangi tali karet sambil menyebutkan nama benda dengan awalan huruf tertentu. Beberapa luka di lutut membuktikan bahwa aku kemampuanku melebihi tubuhku yang waktu itu masih pendek, padahal harus melompati tali yang lebih tinggi dari tnggi badanku.
Hal yang paling menyebalkan: Ketika karet tiba-tiba putus, ketika ada motor lewat, dan ketika ada teman yang terlalu jagoan sampai-sampai nggak gantian sama yang memegang tali.

Petak Umpet

Aku dan teman-temanku adalah generasi pelari, yang tercepat se-RT. Kami bersembunyi di balik tembok, tiarap di balik pohon (sekarang pohonnya sudah berubah jadi mal), menekuk tubuh di tempat-tempat sempit, dan berlari sekencang mungkin saat ketahuan sama yang jadi kucing. Sepertinya ada banyak temanku yang terluka gara-gara permainan ini, jatuh, tertabrak, bared-bared terkena semak, atau digigit semut merah di tempat persembunyian.


Permainan Masa Kecil Petak Umpet
Sumber: islamthis.wordpress.com
Hal yang paling menyebalkan: Saat jadi kucing terus-terusan, saat jadi orang pertama yang ketahuan, dan saat bilang '25' sambil menepuk tembok BERBARENGAN dengan yang jadi kucing terus berantem. Dan saat kepala kita digetok pas menentukan jumlah hitungan.


Sondah

Permainan Masa Kecil Sondah
Sumber: sekolah123.com

Entah apa namanya di daerah kalian, tapi aku dan teman-temanku menyebutnya sondah. Permainan ini sangat baik untuk melatih keseimbangan tubuh dan kesabaran untuk mendapat giliran. See, bagaimana generasiku bisa bahagia hanya dengan sebuah kapur dan pecahan keramik?

Hal yang paling menyebalkan: Saat pecahan keramiknya tidak masuk ke kotak yang dituju, saat pecahan keramiknya terbelah, saat kaki kesakitan menginjak batu yang lain. Aaaawww!!


Benteng

Permainan Masa Kecil Benteng
Sumber: dolananndese.blogspot.com

Aku dan teman-temanku adalah prajurit tercepat dengan pertahanan yang hebat. Yang jago berstrategi dan tetap setia kawan. Kami ahlinya multitasking, menjaga benteng sambil merebut daerah kekuasaan lawan. Berlari sambil mengelabui musuh. Tabrakan dan jatuh saat berlari adalah luka saat dominan saat bermain Benteng. Tapi dari luka-luka ini kami belajar bekerja sama, saling percaya, saling menjaga, menjadi cerdik, dan punya seribu taktik.

Hal yang menyebalkan: Saat kelompok kita tinggal 2 orang, kemungkinan menang semakin tipis!


Boy-boyan



Boy boyan

Satu permainan lagi yang aku sukai. Bola kasti dan tumpukan genteng/pecahan keramik. Saat tumpukannya tumbang, semua berpencar berlarian. Aku ingat sekali jeans baruku robek saat bermain boy boyan. Pulang menangis kesakitan, diobati kepedihan, tapi tetap main lagi bak jagoan.

Hal paling menyebalkan: Saat menumpuk pecahan keramik terakhir terus tumpukannya BRUK, tumbang semua.


Luka Bersejarah

Ada banyak bekas luka di tubuhku dan temanku. Tapi luka itu sebagai tanda bahwa kami pernah berlari sangat cepat di bawah hujan, bersembunyi paling lama diselimuti bau tong sampah, melompat paling jauh dan pemenang yang juga sering kalah. Dengan luka ini aku selalu ingat bahwa permainan masa kecil mengajarkanku untuk berlapang dada jadi kucing, jujur saat menghitung, kreatif dan tak mudah bosan, pintar berstrategi, bekerja sama, sabar menunggu, tidak mudah kecewa, dan tentunya membentuk kenangan masa kecil yang bahagia. Dengan luka ini aku selalu ingat bahwa semua akan ada gilirannya, sifat sportif harus dijaga, dan mengerti bahwa tubuhku tidak membatasi kemampuanku. Luka-luka ini sedikit banyak memengaruhi sifatku hari ini. Sungguh kenangan luar biasa dari aku di masa kecil.

Jika aku bisa bicara dengan aku di masa kecil, aku ingin bilang "Terima kasih telah bermain di luar dan menanggung perihnya luka untuk kenangan di masa depan. Kamu sungguh pembelajar anti kapok, jagoan kecil penuh luka yang tahan banting. Terima kasih atas masa kecil penuh luka, penuh permainan pembawa bahagia. Jangan lupa pulang ke rumah ya."



Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa


10 komentar:

  1. baru inget, tumpukan batu itu namanya boy2an ya... tapi kalo anak saya skrg ini nyebutnya batu tujuh, batunya ditumpuk sebanyak 7 batu dan ditimpuk pake sendal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda generasi beda nama ya. Jamanku sih seadanya pecahan keramik aja, makin tinggi makin susah..hihi

      Hapus
  2. Lucu ceritanya Mak.Goodluck yahhh. Moga menang :D

    BalasHapus
  3. luka yang meninggalkan kenangan masa kecil yang menggembirakan ya. Sondah tambahan kata lagi nih, di beberapa tempat punya nama lain. Terima kasih ya sudah berpatisipasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di daerah lain namanya engklek ya.. Makasih udah mampir..

      Hapus
  4. Aku juga punya luka di lutut bekas jatuh waktu main benteng dulu.. jadi saksi sejarah yaaa sekarang :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ciri anak yang masa kecilnya bahagia ^^

      Hapus
  5. Saya punya bekas luka di jempol kanan tapi bukan karena permainan. Tapi karena buku kaleng susu dan ga bisa. Jadinya alat buat buka kaleng itu kena jempol :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menjadi sejarah pengorbanan buat anak ya mbak,,hihi

      Hapus

Terima kasih Sudah Berkunjung. Silakan Tinggalkan Jejak, dan Beri Masukan Untuk Kemajuan :)

Google+ Followers