Arti Do'a Barakallah

Berawal dari doa kebanyakan orang saat ulang tahun "Semoga panjang umur ya.." atau saat pernikahan "Semoga enteng rezeki dan banyak keturunan..". NO!! Saya nggak setuju dengan konsep doa seperti ini. Karena tidak semua banyak itu baik, tidak semua yang sedikit itu harus jadi banyak.


Doa Ulang Tahun
Doa Ulang Tahun
Coba ucapkan doa "Barakallah" untuk semua event entah itu kelahiran, ulang tahun, kelulusan, pernikahan, atau dapat pekerjaan. Maknai doa itu. Karena sungguh berdasarkan pengalamanku, doa "Barakallah" ini memberi makna berkah dan kebahagiaan yang luas sekali.

Berkah itu Sedikit tapi Cukup

Tetangga saya, teman adik saya,  seorang remaja muda 18 tahun. Sudah mendirikan taman baca Al-Qur'an, setiap minggunya memberikan nasi bungkus ke pemulung di sekitaran komplek, rajin ngajak anak-anak tetangga shalat berjamaah ke mesjid. Aku sendiri kaget dan nggak ikhlas saat mendengar kalau ia meninggal di usia masih muda. Lantas aku belajar, bahwa umur tidak panjang pun ternyata ia bisa memberi banyak manfaat ke orang-orang sekitarnya.
Itulah berkah. Sedikit umurnya, tapi cukup untuk beramal, cukup untuk memberi ilmu yang dijamin tidak akan hapus pahalanya. Sedikit waktunya di dunia, tapi cukup untuk membuat hati banyak orang bersedih karena kepergiannya, cukup untuk mencerdaskan anak-anak di komplekku mengaji.
Jadi, jika umur anda panjang tapi banyak musuh dan makin tua makin menjadi, banyak harta tapi selalu merasa kurang, banyak waktu luang tapi tidak melakukan apa-apa, hati-hati! Mungkin hidup anda kurang berkah.

Berkah itu Bukan Ilmu Matematis

Tahun lalu karena statusku dan suami masih anak magang, gaji kami tidak sampai 2 juta setelah digabung. Setelah dikalkulasi, ya seperti ini:
 Berkah itu Bukan Ilmu Matematis
Laporan Keuangan Berdua
Itu belum ditambah lagi dengan pengeluaran tidak terduga seperti ganti ban, ngidam Pizza, atau hangout sama teman. Ah, rasanya nggak logis juga hidup di Jakarta dengan modal di bawah UMR untuk bertiga (saat itu Eiffel masih dalam perut).
Itulah berkah, ketika kita tidak lagi itung-itungan dengan pemberian-Nya. Ketika defisit tertutupi di luar logika. Mungkin 50 ribu yang terselip untuk Infaq yang membuahkan berkah dalam harta kami berdua. Berkah kesehatan, karena kami nggak perlu menambah pengeluaran untuk ke rumah sakit. Berkah mendapatkan ibu kos yang suka ngasih makanan. Berkah kalau saya selama magang nggak usah bayar bus jemputan. Berkah karena tidak banyak tapi cukup untuk hidup dan kami bahagia.
Jadi jika harta anda melimpah tapi banyak juga pengeluaran untuk hal yang rasanya tidak perlu, hati-hati! Sucikan harta anda agar berkah.

Berkah itu Ketika Anda Lebih Bahagia Memberi daripada Menerima

Saya ditraktir macaroni panggang. Saya bahagia. Titik.
Saya sengaja buat macaroni panggang, modalnya nggak sedikit. Saya suguhkan hasil eksperimen saya pada keluarga. Mama senang, papap bilang enak, adik-adik senang dan mereka nambah lagi. Semua senang dan saya senang. Kami bahagia.
Itulah berkah, ketika memberi sesuatu berarti memberi kebahagiaan dan menerima kebahagiaan. Bahagia atas senyuman dan ucapan terima kasih. Ketika kita menerima dengan baik, maka hanya satu atau dua orang yang berbahagia. Tapi ketika kita memberi dengan baik kepada banyak orang, maka kebahagiaan akan kembali ke kita. Bukankah berbagi itu menyenangkan? Ketika sepotong macaroni cukup membahagiakan satu keluarga dengan 4 anak
Jika anda masih senang menerima daripada memberi, cobalah belajar memberi, dan rasakan kebahagiaan itu bergema.

Berkah itu Tumbuh, Menyebar, dan Berkembang

Ini ketika saya membaca tentang Mia Susanto pendiri AIMI yang pada awalnya kesulitan dalam menyusui lantas mendirikan kumpulan yang mengedukasi para ibu menyusui. Sebenarnya hanya ilmu tentang menyusui yang ia bagikan, hanya tentang masa dua tahun dalam hidup manusia. Tapi ketika ia berbagi dengan ikhlas, makin banyak ibu-ibu yang dapat menyusui walaupun sambil bekerja. Makin sedikit ibu-ibu yang harus menahan sakit menahan ASI tidak disedot karena awam. Makin banyak anak-anak Indonesia yang kuat imunnya dan mendapat gizi sempurna di awal kelahiran.
Itulah berkah, saat ilmu yang baik menyebar dan akhirnya dipakai oleh semua orang. Hanya ilmu tentang ASI (Lancang banget saya bilang 'Hanya', maaf), tapi cukup untuk jadi cara mencerdaskan anak bangsa. Dan tentunya Mbak Mia ini pasti berbahagia ketika ilmunya dipraktekan orang banyak. Dan tahu kan kalau ilmu yang bermanfaat itu pahalanya bakal terus ngalir. Jadi, berkah ini bisa dibilang multilevel, seseorang bisa mengambil ilmu dari orang lain, tanpa si orang lain itu kekurangan ilmunya.


 Berkah itu Tumbuh, Menyebar, dan Berkembang
Makin Berbagi, Makin Berkah

Jika anda punya sesuatu tapi hanya digunakan sendiri, bagaimana sesuatu itu bisa tumbuh? Bagaimana bisa berkah? Tapi, jangan salah kaprah tentang tumbuh, menyebar dan berkembang ini. Kalau hal buruk yang disebar ya berarti menumbuhkan dan menyebar dosa.


Berkah itu Pasti Berasal dari yang Baik

Mama, seorang guru yang saat diangkat PNS tahun 1990 hanya mendapat gaji Rp. 117.000,-. Jaman dulu, pegawai pabrik lulusan SMA saja mengantongi 500 ribuan. Rasanya begitu menyedihkan ketika upah periksa LJK tahun 2014 hanya Rp. 200,-/ lembar. Memeriksa ujian 10 kelas pun tidak sampai mengantongi 100 ribu. Sedangkan saya 2 jam ngajar privat bisa mendapat 100 ribu + makan malam. Rasanya nggak adil sekali bagi mama saya, muridnya sudah 30 generasi, tapi gaji beliau sekarang tidak lebih besar daripada anaknya yang D3. Tapi beliau bilang "Siapa bilang gaji mama sedikit? Allah ngasih anak-anak yang nggak bikin mama ngeluarin biaya kuliah. Allah ngasih kesehatan buat kita sekeluarga. Kita udah punya apa-apa."
Itulah berkah, beliau mendapatkan apa-apa entah dari ilmu yang diajarkan, entah dari zakat yang selalu dikeluarkan, entah dari doa di awal shubuh. Entahlah, kuyakin pasti berkah itu dari hal baik, dari rezeki yang baik, nggak neko-neko, beliau membantu papap memberi makan anak-anak dari rezeki yang halal, dan walaupun hanya sedikit ilmu yang beliau ketahui, tapi berhasil mencetak beberapa generasi. Ilmunya dipakai oleh banyak orang, yang digunakan kembali untuk mengajarkan orang lain.
Jika anak-anak anda hanya bisa merepotkan, jika anda merasa selalu sial, hati-hati!! Barangkali anda memakan atau memberi makan anak-anak anda dari hal yang tidak baik.

Jadi, saya akan sangat meng-Aamiin-kan doa "Barakallah" kepada saya. Karena itu bisa berarti luas. Ilmu saya dapat diambil oleh orang banyak dan manfaatnya bisa menyebar. Harta saya sedikit tapi cukup untuk beli rumah di Pondok Indah, eh cukup untuk kehidupan keluarga dan cukup untuk berbagi. Waktu saya 24 jam tapi bisa saya curahkan untuk kerjaan yang bermanfaat. Doa saya yang sedikit bisa makbul.
Doakan saya "Barakallah", semoga Allah memberkahi anda, karena itu berkah terindah dalam hidup.



Giveaways Agustus Penuh Berkah

6 komentar:

  1. berkah akan senantiasia terpancar...asal kita tidak lupa bersyukur :)

    Thanks for joining my GA #Blessful August …bon courage yooo :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir mak Indah.. Sukses GA-nyaaa..
      Semoga berkenan buat penilaian..masih newbie soalnya..hihi

      Hapus
  2. Setuju banget, berkah itu bukan ilmu matematis :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, karena tidak semua 3-1=2 kalau urusan rezeki..

      Hapus
  3. Berkah tidak bisa di hitung dengan rumus matematika ya mbak, matematika kita dangean Allah beda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entah darimana Allah nambahin minusnya,,dan semakin keluar banyak buat Allah, ditambahnya juga lebih banyak lagi.. Wallahu'alam..

      Hapus

Terima kasih Sudah Berkunjung. Silakan Tinggalkan Jejak, dan Beri Masukan Untuk Kemajuan :)

Google+ Followers