Hal Menyebalkan Punya Suami Orang Minang

http://adriannisa.blogspot.com/2015/12/hal-menyebalkan-punya-suami-orang-minang.html 

Postingan ini mengandung SARA, pastikan selera humor anda cukup tinggi.

Aku dan suami adalah pasangan Panda (Padang-Sunda) atau Danang (Sunda-Minang). Kehidupan wanita menikah di Indonesia selalu diasosiasikan dengan suku dan ras asalnya. Padahal rasanya ras tak pernah jadi masalah. Yang jadi masalah itu ya sifat pribadi masing-masing dan keimanan masing-masing.

Entah sompral atau ucapan jadi doa, dulu aku pernah mengucapkan 'Ah, ntar punya suami orang Sunda aja, gak mau orang Sumatera, gak kuat main urat'. Tapi, jika takdir sudah berkata, pemuda rantau tanah Minang itu akhirnya bersanding dengan si gadis Sunda.

Tapi, ngomong-ngomong soal suku suami, memang ada hal menyebalkan saat aku yang jadi istrinya. Menyebalkan, ya, sungguh menyebalkan jadi istri orang Minang. Hal menyebalkan punya suami orang Minang adalah:

  • Jadi Istri Orang Minang itu Menyebalkan, Sering Dikoreksi pas Baca Qur'an

Menyedihkan sekali hidupku selama 22 tahun nggak mengenal makhraj huruf hijaiyah dengan benar, jadi selama itu juga bacaan Al-Qur'an nggak tartil. Ternyata pria ini datang dan membenarkan bacaan Qur'an-ku. Tahu lah ya gimana sebalnya diajarin sama orang yang justru dekat? Sebel banget deh pas dia terus nyalahin aku pas mengucapkan huruf 'Dho', 'Dlo', 'Do', lidahnya jangan keluar, pipinya harus menggembung, aah susah. Tapi begitulah orang Minang, sejak kecil mereka diajari baca Qur'an dengan tartil.
Tapi, dari itulah aku bisa lebih baik lagi mengaji Al-Qur'an. Karena kamu, orang Minang. 

  • Jadi Istri Orang Minang itu Menyebalkan, Sering Digombalin

Sebelum nikah bilang 'Cita-cita kita sama besar, kayaknya aku nggak bisa menggapainya sendirian'
Pas lagi berantem dia bilang 'Rumah tangga itu ibarat kapal, kapal kita ini masih kecil, jadi hantaman kecil aja bisa merusak layarnya. Yuk kita benerin sama-sama'
Pas lagi stress sama anak dia SMS 'Aku mengenal kamu sebagai wanita yang kuat, kamu pasti bakal jadi ibu terbaik buat anakku, jangan stress ya, nih aku kasih cokelat dan voucher belanja.'
Menyebalkan banget kan, gimana bisa nggak melting, gimana bisa nggak luluh lagi? Gimana bisa marah lama-lama? Nyebelin sih, tapi emang suka koq digombalin. Lebih menyebalkan lagi kalau belanja di Tanah Abang sama orang Minang, pasti digombalin "Rancak bana uni pakai baju itu. Buat uni ndak saya kasih mahal"
Sepertinya orang Minang ini cucu dan cicit dari Buya Hamka dan Marah Rusli.

  •  Jadi Istri Orang Minang itu Menyebalkan, Gagal Diet Kalau Pulang Kampung

Gulai otak yang lembut, kerupuk Sanjai dengan lelehan sambal yang bikin ketagihan, teh telur dengan buihnya yang manis, martabak mesir dengan kuah pedas mantapnya, pensi yang gurih buat cemilan, gulai ikan dengan warna kuning yang menggoda, dan rendang yang diakui sebagai makanan terlezat di dunia. OMG! Lidahku rasanya nggak bisa menolak makanan yang disajikan ibu mertua saat pulang kampung. Aaaah sebel! Jadi gagal kalau mau diet!

  • Jadi Istri Orang Minang itu Menyebalkan, Akrab Banget sama Orang Sedaerahnya yang Baru Kenal

Ups! Emang nyebelin deh kalau diajak ngumpul sama temen suami yang sedaerah. Temen perempuannya cantik-cantik dan manis bikin aku pengen bilang "Kamu pernah suka ya sama dia?", teman cowoknya juga bikin suami lupa waktu, kelamaan ngobrol. Apalagi mereka itu punya kekuatan super untuk mengenali teman sedaerahnya di kota rantau, terus langsung ngobrol akrab kayak pernah se-SMA. Aku selalu bilang sama suami "How can you know kalau dia itu putri daerahmu, sedangkan dia ada di Jakarta dan ngomong bahasa Indonesia?". Bahkan keajaiban itu terjadi saat kakak iparku tahu kalau sopir Uber yang ditelepon adalah orang Minang, atau saat temanku yang orang Minang tahu kalau Kasubbag yang baru adalah orang Minang--sebelum Kasubbag itu memperkenalkan diri--.

  • Jadi Istri Orang Minang itu Menyebalkan, Susah Diajak Pulang Kampung

Aku yang berasal dari Bandung, rasanya ingiiiiiin sekali kerja dan menghabiskan hari-hari di kota asal. Tapi bagi suami dimana aja oke, tergantung penempatan kerja aja. Orang Minang dengan jiwa perantaunya membuat kemampuan mereka bersaing dan bertahan hidup begitu tinggi. Mereka nggak rewel dengan suhu, jenis makanan, dan perbedaan lain di kota rantau. Suamiku sih kayaknya dimana aja betah, dan itu membuat aku dan suami nggak satu visi. Harusnya kan suami juga memperjuangkan untuk bisa menetap di Bandung.

Daaan, yang paling menyebalkan adalaaaah...

  • Punya Suami Orang minang itu Menyebalkan, Sering Ditanyain "Suami Kamu Pelit?"

Aku sering jadi korban skeptisme orang-orang karena menikahi orang Minang. 'Agak pelit nggak mbak suaminya?', 'Mmm, maaf ya mbak, tapi biasanya orang Padang suka perhitungan', atau lebih halusnya lagi 'Pantesan mbaknya kerja, suaminya pelit ya?'.
Hey, hellooo.. Apa istri orang Minang harus berpakaian mewah agar orang2 tahu kalau suami kita sangat loyal sama istrinya?
Aku akan bilang 'Suamiku nggak begitu ah, dia tahu agama'
Orang Minang memegang 'Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah', dapat suami orang Minang yang basandi Kitabullah pasti mengerti kalau tugas suami itu mengayomi dan memberi nafkah buat anak istri. Dan suamiku melakukan kewajiban itu.

Jadi, yang menyebalkan sebenarnya adalah orang-orang yang bawel men-judge seenaknya kalau orang Minang itu pelit. Bukan orang Minangnya.

See, kalau kamu nggak siap dibenerin bacaan Qur'an-nya, kalau kamu nggak suka digombalin, atau kalau kamu nggak suka banyak temen, mending jangan sama orang Minang. Aku memilihnya bukan karena ia orang Minang. Tapi, karena ia adalah pria Muslim yang basandi Kitabullah.

Maaf ya, kalau ada pihak yang tersinggung karena postingan ini.
Don't wanna say racist, sih. Cuma pengen curhat aja sebagai istri orang Minang.

23 komentar:

  1. Kalau sudah begini jadinya lebih banyak menyenangkannya mbak dari pada menyebalkan seperti di judul :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menikah emang menyenangkan, bukan? Hehehe..

      Hapus
  2. Heheee... Aku ketawa bacanya poin terakhir.

    Menikah itu barokah ya, mba nisa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kan? Sering ditanyain gitu sama orang? Nyebelin banget..
      Berkah banget, dengan siapapun, dengan suku manapun..

      Hapus
  3. lgs nyengir baca yg trakhir ;p... hihihihii.... Tapi iya sih, jgn anggab sama rata gitu ya... ga semua minang pelit keleuss... suku lain juga bnyk ;p.. Tapi dr semuanya yg mba tulis aku stuju bgt ama, nikah ama org minang, ga bkl bs diet kalo pulkam ;p.. hahaha makanan di sana terlalu enak2 ^o^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanan khas tanah Minang emang paling bikin ketagihan, saya ngidamnya makan di RM Padang..
      Kalau soal pelit mah itu tergantung pribadi masing2 sebenarnya..

      Hapus
  4. Ngikik deh bacanyaaaa. Emang beneran gombal ya??? Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selama saya kenal orang Minang, mereka paling bagus dalam berbahasa, apalagi kalau disuruh perang pantun, menang deh mereka..

      Hapus
    2. Lebih tepatnya bisa berbahasa dengan baik dan meluluhkan lawan bicara.. Makanya kalau perang pantun jangan nantangin orang Minang..

      Hapus
  5. kalau bpk sy dr minang ibu palembang, kalau adat di minang anak laki-laki tak berharga/di buang kasarnya.....sendi berkitabullah kah nama nya tuh !!!? kampreeet

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terlepas dari sifat kedaerahan, setiap orang punya karakter tersendiri. Kalau emang gitu, berarti bukan karena orang Padangnya, tapi karena memang orangnya yang nggak basandi Kitabullah.

      Hapus
  6. saya juga orang minang. jangan menjunjung tinggi adat minang. bagaimanapun juga adat minang juga ada cacatnya.sama seperti adat adat daerah lain yang mengaku ngaku bersendikan alquran.kenyataannya menyimpang. anak laki laki tidak dapat hak waris. garis krturunan mengikuti ibu. saya orang minang,tapi tidak terlalu fanatik adat.klo bangga,ya iyalah. setiap orang pasti bangga dengan nenek moyangnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya tidak menjunjung tinggi adat manapun. Cuma membalikkan perspektif orang-orang terhadap orang Minang..

      Hapus
  7. ini mah pamer, bukan seebel mbak qiqiqiqiqi

    BalasHapus
  8. Artikelnyaa bagus banget,

    BalasHapus
  9. Probabilitas dalam kehidupan sy bertemu dgn ras mereka lebih byk keburukannya ketimbang kebaikannya,mungkin artikel ini ataupun artikel lain lebih menjunjung tinggi ras mereka, saya setuju, tp kentataannya saya bertemu dgn teman dari ras mereka yg jauh lebih buruk perilakunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebetulan orang-orang Minang yang saya temui banyak yang baik koq, justru saya banyak sobat dari suku ini..

      Hapus
    2. Kadang Stigma itu yang membuat kita pesimis dulan terhadap etnik tertentu, saya kebetulan juga Pria Campur aduk , Ibu Minang ( otomatis saya orang minang asli donk) Bapakku Bandung (ket Arab dan Sunda) saya lahir di Jakarta . Sebaiknya memang untuk menghilangkan stigma negatif terhadap etnis tertentu kita harus open minded, dan berpikiran positif dahulu karena akan membawa aura positif juga, kalo awalnya dah stigma negatif tentang orang atau suku tersebut pasti aura negatif akan terbawa dalam komunikasi dan pergaulan dengan mereka, sehingga yang terasa hanya negatifnya saja. sekian dan terima kasih

      Hapus
  10. Assalamualaikum mbak, mau tanya apa artinya Adat Bersandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah??

    Kenapa ya sampai ada banyak yg beranggapan orang padang itu pelit?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumussalaam.. Artinya bahwa setiap adat yang ada di tanah Minang bersandar pada Al-Qurán.
      Mungkin karena kebanyakan dari orang Minang itu pedagang, dan biasanya lebih perhitungan untuk urusan uang. Padahal stigma seperti itu subjektif..

      Hapus
  11. mantap teteh beruntung y punya suami orang minang hehe, suaminya juga beruntung bisa dapat cewe bandung adoh kepengen juga
    nih ama cewe bandung hehe moga langgeng terus y

    BalasHapus

Terima kasih Sudah Berkunjung. Silakan Tinggalkan Jejak, dan Beri Masukan Untuk Kemajuan :)

Google+ Followers