Suamiku, Si Pemarah


Suamiku adalah suami pemarah. Tatapannya sering berubah menyeramkan saat dia marah. Keningnya berlipat marah terkadang diikuti dengan mulutnya merutuk marah. Ih, si tukang marah!

Dia marah saat aku tanya "Nanti aku boleh pakai legging nggak? Bajunya panjang koq".
Matanya langsung menghujam sambil bilang "Perlu ya aku jawab pertanyaan itu? Terus aku yang nanggung dosa kamu?"

Dia marah saat aku bilang pada adik perempuannya "Wah, itu tandanya udah butuh pacar, Vin!". Seketika aku langsung merasa bersalah ngomong gitu di hadapan Mr I. Aku bersiap dimarahi.
"Jangan ngajarin yang nggak bener." Ups!!

Mr I marah dan mendiamkanku saat pundakku ditepuk oleh seorang teman laki-laki. Oke, aku minta maaf dan menanggalkan gengsiku.

Saat aku bercerita tentang temanku yang mau cerai, Mr I bilang "Kamu ngegosip ya di kantor??", Mr I marah dan nggak mendengarkan ceritaku.

Saat aku bilang "bentar" saat ia menyuruhku shalat, dia juga marah. Lalu menghitung dan bersiap mencabut HP yang dari tadi aku pegang.

Dia juga sering marah saat aku terlalu lama mengadu kasih dengan alat makeup. Sambil berteori "Kamu pikir semua cowok suka sama cewek makeup'an? Suami itu pengen nyium istrinya, bukan bedaknya."
Aku nggak mau kalah dan berkelit "Tapi kan merawat diri, biar tetep cantik buat suami."
Dia nggak mau kalah "Merawat diri pake zat kimia."
Oke, aku iya-kan kalimatnya dan hanya menghabiskan 5 menit di depan cermin.

Dan kemarin dia marah lagi pas aku lagi pakai eyeliner pas mau ke mal. Dan sreeeet.. eyeliner masuk ke mata. Perih lah!! Udah dibilang nggak usah make up-an selain bedak n lip balm, masih aja ngeyel.

Entahlah harus bagaimana beradu dengan tukang marah. Tapi, marahnya dia bikin aku semakin cinta. Cinta karena dia benar melindungi istrinya, menjaga istrinya dari dosa. Marahnya bukan karena aku yang lupa menaruh handuk futsalnya, bukan karena pie susu yang gosong atau saat aku bilang aku lagi capek masak, bukan juga karena aku masih gamang menjadi istri dan ibu, bukan karena aku yang menjatuhkan HP-nya, juga bukan karena aku telat menyediakan makan untuknya. Tapi marahnya karena kebenaran yang dia yakini, dan karena istrinya masih keras kepala. Masih aja melayangkan kata "tapi" saat ada komando dari sang nahkoda.

Jika suamimu pemarah seperti suamiku, bersyukurlah! Jangan marah balik kayak aku. Hahaha.. Karena suami marah dengan cara yang benar, Insya Allah menjauhkan kita dari kemarahan Allah.

*Postingan sadar beberapa saat setelah dimarahin suami.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih Sudah Berkunjung. Silakan Tinggalkan Jejak, dan Beri Masukan Untuk Kemajuan :)

Google+ Followers